KLIK IKLAN

KLIK IKLAN

Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan

Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan - Hallo sahabat Berita Terkini, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan
link : Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan

Baca juga


Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan

       
Kejujuran yang Mengejutkan
Hormatilah [isterimu] . . . supaya doamu jangan terhalang. —1 Petrus 3:7

Baca: 1 Petrus 3:7-12

3:7Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.
3:8Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, 3:9dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: 3:10"Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. 3:11Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. 3:12Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."


Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun:
Ayub 5–7 ; Kisah Para Rasul 8:1-25

Ketika seorang pendeta meminta salah seorang penatua gerejanya memimpin umat untuk berdoa, penatua itu memberi tanggapan yang mengejutkan. “Maafkan saya, Pak,” katanya, “saya baru saja bertengkar dengan istri saya di sepanjang perjalanan menuju gereja. Saya tidak siap untuk berdoa.” Seketika itu juga keadaan menjadi canggung. Akhirnya pendeta itu yang berdoa dan kebaktian dilanjutkan. Pendeta itu memutuskan untuk tidak lagi meminta seseorang berdoa di depan umum tanpa terlebih dahulu menanyakan kesediaan yang bersangkutan secara pribadi.

Penatua tersebut memang memperlihatkan kejujuran yang mengejutkan, padahal ia bisa saja memilih untuk bersikap munafik. Namun dari peristiwa itu, kita bisa menarik pelajaran yang berharga tentang doa. Allah adalah Bapa yang penuh kasih. Jika sebagai seorang suami, saya tidak menghargai dan menghormati istri saya, yang juga adalah anak Allah yang dikasihi-Nya, mungkinkah Bapanya yang di surga mendengarkan doa-doa saya?

Rasul Petrus menuliskan pengamatannya yang menarik tentang hal itu. Ia memerintahkan kaum suami untuk memperlakukan istri mereka masing-masing dengan hormat dan sebagai sesama ahli waris dalam Kristus “supaya doamu jangan terhalang” (1Ptr. 3:7). Prinsip dasarnya adalah hubungan kita dengan sesama mempengaruhi kehidupan doa kita.

Apa yang akan terjadi apabila kita melepaskan topeng kesalehan kita dan menggantinya dengan kejujuran yang apa adanya di hadapan saudara-saudari seiman kita? Bayangkan apa yang bisa Allah lakukan melalui hidup kita ketika kita berdoa dan belajar untuk saling mengasihi seperti kita mengasihi diri sendiri.


Bapa, Engkau mengasihi semua anak-Mu, tetapi kami sering berselisih dan berbeda pendapat. Ajarlah kami untuk saling mengasihi dan menghormati agar dunia melihat pengaruh yang Engkau berikan. Ajarlah kami berdoa.
Doa pada hakikatnya adalah percakapan yang jujur dengan Allah.
Wawasan:
Para suami diperintahkan untuk hidup bijaksana dengan istri mereka dan menghormati mereka (1Ptr. 3:7). Persekutuan dengan Allah akan terhalang jika suami tidak menghormati istrinya (ay.7). Rasul Paulus memerintahkan para suami untuk tidak berlaku kasar terhadap istrinya (Kol. 3:19), melainkan untuk mencintai mereka “sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat,” dengan mengorbankan kepentingan mereka sendiri demi pertumbuhan, kedewasaan, dan kekudusan istrinya (Ef. 5:25-27). Suami haruslah mengasihi istrinya seperti mengasihi dirinya sendiri (ay.33).

Bagikan pendapat Anda tentang renungan hari ini di Facebook.

Anda bisa memberikan dampak yang berarti.

Persembahan kasih seberapa pun memampukan kami untuk menjangkau orang-orang dengan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup.

Our Daily Bread Ministries

Misi kami adalah menjadikan hikmat Alkitab yang mengubahkan hidup dapat diterima dan dimengerti oleh semua orang.

Visi kami adalah melihat orang-orang dari segala bangsa mengalami persekutuan pribadi dengan Kristus, bertumbuh semakin menyerupai Dia, dan melayani di jemaat lokal yang merupakan anggota keluarga-Nya.

Copyright © 2016, Our Daily Bread Ministries, Grand Rapids, MI 49555 USA. Diperlukan izin tertulis dari Our Daily Bread Ministries untuk meneruskan atau menyebarluaskannya.


Anda menerima email ini karena alamat email Anda tercantum dalam daftar pembaca Santapan Rohani.
Berkomunikasi melalui email memampukan kami untuk mengabari Anda tentang perkembangan pelayanan dan penawaran materi kami secara lebih cepat dan hemat biaya.

Jika Anda tidak ingin lagi menerima Santapan Rohani melalui email, silakan klik di sini.
 

[2016-06-26]


Demikianlah Artikel Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan

Sekianlah artikel Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan dengan alamat link https://beritayangterkini.blogspot.com/2016/06/santapan-rohani-kejujuran-yang.html

0 Response to "Santapan Rohani -- Kejujuran yang Mengejutkan"

Post a Comment